Awal yang Sederhana di Depan ATM Kampus
Tahun 2009 awal, waktu itu saya baru masuk semester dua di kampus ITB. Saya dan teman-teman sedang santai di pinggir jalan utama kampus, tepat di depan ATM.
Tiba-tiba berjalan seorang pria yang terlihat cukup tua, mungkin sekitar 50 tahun, wajahnya jelas orang asing.
Perlahan dia mendekati kami, lalu membuka pembicaraan dengan bahasa Inggris.
“Do you guys know where biology lab is?”
Kami semua langsung cengengesan. Dengar bahasa Inggris saja sudah minder. Mungkin sadar juga kalau kemampuan kami pas-pasan.
Entah kenapa, seperti kesurupan, saya tiba-tiba maju sendiri dan mencoba menjawab.
Tentu saja berantakan.
Bahkan setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut saya, saya sendiri tidak paham sebenarnya saya sedang menjelaskan apa.
Akhirnya saya tutup dengan kalimat paling aman.
“Come on, we go together.”
Saya memutuskan mengantarkan dia jalan kaki saja. Rasanya itu jauh lebih mudah daripada memaksakan bahasa Inggris.
Sepanjang jalan, bapak ini bercerita tentang kegiatannya di ITB dan beberapa hal lain. Untuk urusan mendengar, saya sebenarnya tidak punya masalah berarti. Saya cukup memahami apa yang beliau sampaikan. Hanya saja, untuk berbicara dalam bahasa Inggris di masa itu memang masih terasa rumit.
Singkatnya, saya menangkap bahwa beliau adalah seorang dosen dari Negara Turki, seorang profesor yang sedang tergabung dalam tim riset berskala internasional. Basis mereka di Jakarta, dengan beberapa dosen ITB di antara mereka.
Sebuah Tawaran yang Tidak Pernah Saya Duga
Sementara dari sisi saya, saya juga bercerita bahwa saya masih kuliah di jurusan Teknik Elektro.
Begitulah akhirnya kami sampai di depan lab biologi. Menjelang berpisah, beliau mengucapkan terima kasih.
Sebelum benar-benar pergi, kami sempat bertukar kontak. Zaman itu belum ada WhatsApp atau nomor ponsel seperti sekarang. Beliau memberikan kontak Yahoo Messenger—dulu disebut YM.
Sesaat sebelum berpisah, beliau tiba-tiba menawarkan sesuatu dengan sangat serius.
Katanya, tim riset mereka sebenarnya sedang membutuhkan anak Teknik Elektro. Dan entah kenapa, dia menawarkannya ke saya.
Saya hanya perlu ke Jakarta setiap Sabtu, lalu kembali ke Bandung hari Minggu.
Bayarannya cukup besar.
Sekitar lima juta rupiah per bulan.
Untuk ukuran mahasiswa saat itu, itu angka yang luar biasa.
Saya tidak langsung memberi jawaban.
Takut yang Lebih Besar dari Kesempatan
Malamnya, di kosan, saya berpikir keras tentang tawaran itu.
Anehnya, semua pikiran saya justru mengarah ke penolakan.
Bukan karena malas ke Jakarta.
Bukan karena bayaran kecil—justru besar sekali.
Tapi karena saya tidak percaya diri.
Saya merasa saya tidak ada di level itu.
Akhirnya saya membuka Yahoo Messenger, menghubungi beliau, dan singkatnya menyampaikan penolakan.
Penyesalan yang Datang Bertahun-tahun Kemudian
Seiring waktu, bertahun-tahun kemudian, saya sering mengingat momen itu.
Terlalu banyak “jika”.
Jika saja saya menerima.
Jika saja saya mencoba.
Jika saja saya lebih berani.
Dan itu terasa seperti sebuah penyesalan besar.
Kenapa baru terasa bertahun-tahun kemudian?
Karena setelah saya bekerja, saya mulai memahami sesuatu.
Ternyata saya tidak harus selalu paling pintar secara teknis.
Yang terpenting adalah saya tahu siapa yang pintar.
Saya bisa berbagi pekerjaan. Saya bisa menghubungkan orang. Saya bisa berdiri di tengah—antara sumber pekerjaan dan orang yang mampu mengerjakannya.
Sambil tetap belajar pelan-pelan menjadi lebih baik.
Di situlah saya mengenal apa yang disebut kekuatan relasi.
Dua Pelajaran yang Saya Simpan Sampai Hari Ini
Dan dari cerita sederhana itu, saya memetik dua pelajaran berharga.
Pertama.
Saya teringat kutipan obrolan Pandji Pragiwaksono. Dia bilang, dia selalu memberikan yang terbaik di momen apa pun.
Dari sekian banyak siaran radio yang dia bawakan, salah satunya didengar seorang produser. Dari situlah pintu industri yang lebih besar terbuka.
Mirip dengan yang saya alami.
Kesempatan berbuat baik itu sebenarnya bukan hanya ada pada saya. Kami ramai-ramai di situ. Tapi saya yang memilih maju dan membantu.
Beliau sebenarnya cuma butuh penjelasan arah.
Tapi saya memberi lebih: saya mengantarkannya sampai tujuan.
Pesannya sederhana.
Berikan yang terbaik setiap waktu. Tidak perlu hitung-hitungan untung rugi. Tidak ada yang pasti, kecuali satu hal: melakukan yang terbaik hampir selalu menghasilkan sesuatu yang baik.
Kedua.
Ambil kesempatan untuk berkembang.
Kadang kesempatan datang terlalu cepat, saat kita belum merasa siap.
Tapi kalau itu jelas baik dan membuka ruang belajar, cobalah.
Karena sering kali yang menahan kita bukan ketidakmampuan, melainkan ketakutan sendiri.



