Antara Ilmu atau Balik Kampung
Sekitar tahun 2011, tibalah waktunya saya mengambil mata kuliah Kuliah Praktek. Secara harfiah, ini adalah kesempatan untuk mempraktekkan ilmu dua tahun pertama perkuliahan di dunia kerja nyata.
Pilihan saat itu banyak: perusahaan multinasional, provider telekomunikasi nasional, migas, bahkan perbankan. Tapi saya malah sibuk menghitung pengeluaran bulanan.
Kalau bisa KP di kampung halaman, Batam, saya tidak perlu bayar kos dan biaya hidup di Bandung selama dua bulan. Lumayan.
Singkat cerita, saya mendapat kesempatan di Batam, di salah satu anak perusahaan PT Telkom Indonesia, yaitu PT Batam Bintan Telekomunikasi. Bidangnya sama: telepon dan internet, dengan klien utama kawasan industri Muka Kuning.
Ditambah tawaran “salary” Rp400 ribu per bulan, saya pikir: it is perfect.
Akhirnya saya pulang ke Batam. Mengurangi biaya hidup, sekaligus menerima uang pertama hasil kerja sendiri seumur hidup.
Seorang teman kuliah, Andro, ikut juga. Katanya ingin merasakan “nama besar Batam” yang sering ia dengar.
Kami berdua berangkat dengan penuh ekspektasi.
Ternyata… realita tidak semanis itu.
First Day
Hari pertama KP, kami dicuekin. Tidak tahu harus berbuat apa.
Hari kedua, masih dicuekin.
Hari ketiga, sedikit ada interaksi.
Seorang anak magang bertanya:
“Abang ngapain di sini? Di sini biasanya anak STM bang, belum pernah ada anak kuliahan.”
Oke. Good to know. Haha.
Anak STM ini justru jadi teman baik kami. Dia memberi “hadiah” paling berharga waktu itu: password Wi-Fi kantor.
Speed 1 Mbps.
Tahun 2011, itu terasa seperti roket. Kalau dibaca di 2026 mungkin terdengar lucu.
Tiga minggu pertama kami habiskan… download anime One Piece. Dan menontongnya berulang-ulang.
Ilmiah sekali.
Pekerjaan Nyata Pertama
Perusahaan juga menjual internet retail untuk penghuni dormitori kawasan industri—kebanyakan pekerja wanita.
Suatu hari, datang tiket pertama: pemasangan modem.
Saya, Andro, dan si anak STM berangkat. Mereka menunggu di bawah, saya naik ke kamar.
Saya ketuk pintu.
“Sebentar mas, lagi mandi.”
Beberapa menit kemudian saya ketuk lagi.
“Tunggu ya mas.”
Lalu terdengar ramai-ramai:
“Masuk aja mas, udah selesai!”
Agak mencurigakan sebenarnya. Tapi saya masih polos.
Saya buka pintu…
Mereka masih pakai handuk semua.
Bukan satu orang.
Saya refleks keluar lagi. Di belakang terdengar tawa keras. Rupanya dikerjain.
Beberapa saat kemudian mereka panggil lagi:
“Masuk aja mas, ini beneran udah selesai.”
Akhirnya modem terpasang.
Di bawah, teman-teman cuma komentar:
“Gila bang, lama banget masangnya.”
Ya… lama.
Pekerjaan Kedua, Menjadi Kurir Perusahaan
Masuk minggu keempat, mentor memanggil.
Dalam hati: akhirnya ada kerjaan teknis.
Beliau menyerahkan setumpuk kertas.
“Ini kalian nanti bareng driver, antarkan ini ke alamat-alamat tertera, temui satpamnya ya.”
Ternyata itu invoice.
Kami keliling kawasan industri, menyerahkan tagihan bulanan ke satpam masing-masing perusahaan.
Dan setengah jalan… hujan turun.
Invoice basah.
Kami tetap lanjut.
Romantis sekali dunia kerja.
Saat Itu Saya Belum Paham Compliance
Masuk minggu kelima, saya panik. Belum ada bahan laporan KP.
Saya datangi satu per satu karyawan, bertanya apa yang bisa saya pelajari.
Saya sempat minta belajar tentang soft switching. Jawabannya:
“Itu rahasia perusahaan. Datanya tidak bisa diberikan, nanti kamu susah sendiri.”
Dulu saya kesal.
Sekarang saya paham: itulah compliance.
Data perusahaan bukan untuk sembarang orang.
Untungnya ada satu teknisi baik hati mengajak saya ke ruang PSTN. Dia mengajari setting nomor telepon dan memindahkan kabel di MDF.
Mulai dari mengupas kabel kecil, sampai konfigurasi software.
Giliran saya praktek…
Saya cuma boleh mengupas kabel dan colok.
Dan tetap salah.
Saya gigit kabel untuk mengelupas ujungnya—tiba-tiba lidah kesetrum arus lemah.
Lemah… tapi cukup bikin merinding.
Jadi, Ilmu Apa yang Saya Dapat?
Aneh ya.
Kalau ditanya secara teknis, saya hampir tidak bisa menjelaskan apa yang saya pelajari.
Tidak ada skill canggih. Tidak ada proyek besar. Tidak ada sertifikasi.
Tapi saya belajar hal lain.
Dunia kerja tidak selalu ideal.
Tidak semua ilmu datang dari kelas.
Kadang kita cuma “disuruh-suruh” dulu.
Kadang kita merasa tidak belajar apa-apa.
Tapi ternyata sedang belajar banyak hal tentang realita.
Tentang adaptasi. Tentang inisiatif. Tentang bertanya. Tentang kecewa. Tentang ditolak. Tentang bertahan.
Dan mungkin… itu justru pelajaran terpenting.
Sekarang saya tanya balik:
Kalau kalian di posisi saya waktu itu, apa yang kalian anggap sebagai “ilmu” yang didapat?

