Kembalinya Game Bersama: Dari Permainan Masa Kecil ke Konsep Nongkrong Modern

Jauh sebelum layar sentuh dan koneksi internet cepat, permainan selalu identik dengan kebersamaan. Anak-anak bermain kartu di teras rumah, adu kelereng di tanah lapang, atau berlari sembunyi-sembunyi sampai sore. Permainan bukan soal grafis atau teknologi, tetapi soal bertemu, tertawa, dan saling berinteraksi.

Game adalah aktivitas sosial.

Seiring waktu, smartphone membuat game menjadi semakin personal. Semua orang bisa bermain sendiri di kamar masing-masing. Praktis, tetapi sunyi. Kita tetap bermain, namun jarang benar-benar duduk bersama.

Menariknya, beberapa tahun terakhir muncul kerinduan terhadap pengalaman lama itu. Banyak orang mulai mencari kembali sensasi bermain secara fisik di satu meja yang sama. Bukan lewat headset atau chat, melainkan tatap muka langsung.

Dari sinilah lahir konsep tempat nongkrong yang menggabungkan makan, minum, dan permainan meja.

Bukan game digital berat, tetapi permainan sederhana yang justru mengundang interaksi.

Beberapa jenis permainan yang umum ditemukan di tempat seperti ini antara lain:

Permainan kartu seperti UNO atau kartu remi. Aturannya sederhana, cepat dipahami, dan cocok dimainkan 3–6 orang. Tujuannya biasanya menghabiskan kartu paling cepat atau menyusun kombinasi tertentu. Sambil bermain, obrolan dan candaan berjalan tanpa henti.

Board game strategi ringan seperti Monopoly atau Ticket to Ride. Pemain membeli aset, mengatur strategi, atau mengumpulkan poin. Waktu mainnya lebih lama, tetapi justru di situlah serunya—orang duduk berjam-jam, berdiskusi, bernegosiasi, bahkan saling menjatuhkan secara lucu.

Game party seperti Jenga, Dobble, atau Werewolf. Tipe ini lebih cepat dan ramai. Jenga melatih ketelitian tangan, Dobble menguji refleks mata, sementara Werewolf mengandalkan komunikasi dan bluffing. Biasanya memicu tawa paling keras di meja.

Ada juga permainan klasik seperti catur, congklak, atau domino. Sederhana, tapi tetap relevan. Dua orang bisa tenggelam dalam permainan serius sementara yang lain menonton dan ikut berkomentar.

Menariknya, semua permainan ini punya satu kesamaan: tidak ada yang sibuk menunduk menatap layar. Semua orang saling melihat wajah lawan main.

Interaksi terjadi secara alami.

Secara bisnis, konsep ini masuk akal. Orang datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk “menghabiskan waktu bersama”. Permainan menjadi alasan untuk tinggal lebih lama, bercakap lebih banyak, dan kembali lagi di kesempatan berikutnya.

Pada akhirnya, yang dijual bukan sekadar game, melainkan pengalaman sosial.

Jika dulu kita bermain di halaman rumah atau ruang tamu, kini pengalaman itu dikemas lebih nyaman dalam bentuk ruang publik.

Sebagai referensi, beberapa tempat dengan konsep serupa yang bisa kamu cari sendiri antara lain:
Gameopoly Board Game Cafe, The Bunker Board Game Cafe, Good Game Board Game Cafe, Ichigo Ichie Board Game Cafe, Atas Meja Board Game Cafe, Games On Cafe, PALS Cafe & Gaming House, DIABLO Esports Cafe, Geek Gaming Arena BSD, Hiro Gaming Space.

Karena kadang, hiburan terbaik bukan yang paling canggih—melainkan yang membuat kita duduk satu meja dan tertawa bersama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *