ITB, Mimpi yang Berawal dari Obrolan Sepele Saat SD

Saat itu kelas 5 SD, di rumah kami sedang ada tamu, keluarga jauh dari kampung halaman di ujung Sumatera sana. Anggaplah dia sepupu kami, dan saat itu usianya kisaran 20, dan aku 13 tahun.

Jika kuingat masa itu, aku mengakui betapa randomnya orang ini, dia bertanya pada seorang anak umur 13 tahun “nanti kamu mau kuliah di mana?” Wow, SMP pun belum, apa itu kuliah. Dia lanjut menjelaskan, kau kuliah di ITB saja, saudara kita si …. (dia menyebutkan nama yang aku pun tidak rekam), dia sekarang kaya, kerja di Arab, dulu jurusan …. (lagi-lagi aku tidak rekam). Dari semua yang dia sebutkan hanya satu yang terekam, yaitu “kau bisa kaya”.

Definisi Kaya Versi Anak Kuli Bangunan

Saat itu, kaya yang ada di kepalaku tidak sekompleks punya rumah, mobil, liburan rutin, atau apa pun, aku cuma berpikir, menjadi lebih baik dari status finansial keluarga saat itu, itu sudah berarti kaya. Bapakku seorang kuli bangunan, yang kariernya berhenti di mandor, yang secara luar biasa menghidupi 6 anak, dan untuk sekadar bisa dapat proyek dipaksa oleh bosnya untuk beli rumah di area yang akan dikerjakan, hingga secara ajaib perlahan terbeli 4–5 rumah. Emak ikut bapak untuk buka warung makan di area proyek, tidak pulang untuk beberapa minggu.

Jadi ketika aku kelas 1 SD, aku sudah mengurus diri sendiri, tidak begitu ekstrem, tapi setidaknya baju ganti, makan siang, tersedia di ruang tamu, dan aku menyelesaikannya sendiri, karena kakak akan pulang sekolah di jam 3 sore. Untuk waktu yang cukup lama, aku sendiri di rumah, di usia 8 tahun. Mandiri bukanlah hal istimewa, bukan keinginan tapi keadaan.

Tapi jangan pikir itu luar biasa, aku justru paling santai, karena 3 abang-abangku malah sempat ikut jadi kuli bangunan, terutama di saat libur sekolah. Aku tidak ikut karena masih kecil.

Ya, definisi kaya yang ada di kepalaku sesederhana agar tidak perlu jadi kuli. Sebab pernah suatu libur, kelas 3 SD, 1 bulan penuh aku ikut lokasi perumahan yang sedang dibangun, dan kadang ikut melihat bapak kerja, itu kondisi yang sangat panas, berkeringat, melelahkan, terkadang ada teriakan, marah, pokoknya menyeramkan.

Pegangan Hidup yang Tidak Pernah Direncanakan

Motivasi sederhana itu, yang bahkan tak pernah kuvalidasi, kuikuti menjadi pegangan hidup. Apa sih pengaruhnya pegangan hidup?

Jadi, di Batam itu ada sekolah SMK, salah satu SMK terbesar di seluruh Indonesia, memang diproyeksikan untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja industri elektronik di Batam. Kakak kelas yang lulus dari SMK ini, pada tahun 2003 kami mendengar sudah bisa mendapat gaji di atas 5 juta, bahkan jika lembur bisa dapat 7 juta. Itu angka yang besar sekali, untuk apa kamu kuliah. SMK 1 itu adalah favorit di daerah asal kami.

Memilih SMA Demi Peluang Kuliah

Lalu saat SMP, aku mendapat nilai tertinggi saat lulus, dan memang sangat tinggi, artinya aku berhak untuk memilih sekolah mana pun di Batam. Aku berdiskusi dengan salah satu abangku, intinya aku mau kuliah, apakah aku ke SMK juga? Dia menjelaskan, jika kamu mau kuliah, sudah yakin akan kuliah, maka pilih SMA, peluangnya untuk persiapan ke universitas akan lebih tinggi, tapi biaya kuliah itu besar, uang masuknya pun besar, untuk masuk gratis harus lewat jalur ujian.

Jadi, itulah pertama kali goal itu berpengaruh, aku skip fakta bahwa aku bisa berpenghasilan besar dalam waktu 3 tahun jika masuk SMK, tapi peluangku ke ITB akan menyusut. Aku memilih SMAN 1 Batam, yang jaraknya pun lebih jauh dari SMKN 1 Batam.

Bandung, Realita yang menampar

Tahun 2007, aku lulus SMA dan mendapat approval untuk berangkat ke Bandung, dibekali bimbel SSC intensif selama 1,5 bulan. Aku setidaknya datang dengan status juara kelas dari SMAN terbaik di Batam, confidence level cukup tinggi. Dan hari pertama di bimbel adalah melakukan try out. Beberapa hari kemudian hasilnya keluar, dan aku ada di lembar terbawah, dari puluhan lembar kertas A4. Wow, realita bahwa aku bukan siapa-siapa mulai terkuak di sini. Sebenarnya bukan aku saja, kami datang dari Smansa Batam berempat, empat sekawan.

Itu menyadarkanku untuk lebih giat, jauh lebih giat, dan ya, sehari penuh dalam 1,5 bulan dihabiskan untuk belajar, bahkan malam tidur sekitar jam 1–2 menjelang subuh, dan bimbel di jam 7 pagi, demikian terus sampai akhirnya nilai try out pertama sebesar 19/100 membaik menjadi 37/100 di try out akhir. Tentu saja belum cukup untuk perkiraan masuk ITB. Tapi mimpi tetaplah mimpi, aku tetap memilih ITB di pilihan 1 dan 2. Pilihan 1 STEI (Elektro/Informatika) dan pilihan 2 FTTM (minyak/tambang). Singkatnya, ujian berakhir dan hasilnya, tada… aku gagal.

ITB atau tidak sama sekali

Setelah ujian itu berakhir, aku sempat ikut jalur masuk khusus Universitas Parahyangan Bandung, jurusan Teknik Sipil. Dan aku lulus. Aku harus membayar sekitar 25–45 juta uang masuk, orang tua sudah menyanggupi. Namun aku bilang, tahun depan mau coba ITB lagi. Emak bilang, tidak perlu lah, sayang duit sudah keluar. Dan aku tidak berpikir lama untuk merespons, begini saja mak, aku pulang saja ke Batam, belajar, dan tahun depan coba lagi, jika gagal lagi, aku kuliah di Batam saja ambil D3 di Politeknik Batam. Oke deal dan aku pulang.

6 Bulan di Batam yang Berantakan

Di Batam, aku memulai program pribadi, namun berantakan karena salah satu teman baikku saat SMP, tidak kuliah, dan hampir setiap hari datang ke rumah, diusir tidak mungkin, diikuti ya jadi tidak ada waktu untuk belajar. Akhirnya aku diskusi dengan keluarga, bahwa aku ingin ke Bandung, aku akan tinggal di rumah kesekretariatan mahasiswa Batam, tidak bayar, hanya patungan untuk bayar listrik air dan lain-lain. Aku ingin ikut bimbel alumni, yang harga 6 bulannya sama dengan insentif 1,5 bulan, dan aku tidak perlu ikut insentif itu lagi. Keluarga setuju dan aku berangkat.

Tinggalkan Batam, demi Fokus belajar

Perjuangan pun dimulai. Di rumah yang kutuju, kehidupan sangat kacau, abang-abangan dari Batam sangat fun, bahkan terlalu fun, setiap hari Sabtu bisa minum bergilir, namun baiknya adalah tidak memaksaku untuk ikutan minum, aku hanya tetap berada di antara mereka, sekadar ngobrol dan ketawa bareng. Prinsip di sana tidak ada kamar dedicated, siapa pun tidak masalah untuk tidur di kamar mana pun. Tapi hebatnya, orang-orang ini paham dengan perjuanganku, dan tidak pernah mengganggu 1 kamar (tanpa pintu) yang kutempati. Atau mungkin karena sudah tidak ada pijakan di lantai, semua tertutup buku yang standby terbuka.

Aku bangun jam 6 pagi, sapu rumah, pel, cuci piring bekas malam dari seisi rumah, aku benar-benar menikmati itu sebagai pelayanan untuk kebaikan Tuhan saat itu, dan aku benar-benar menyayangi abang-abangan Batam, yang luar biasa baik, bahkan hingga satu momen mereka berebut untuk mengantarkanku bimbel dengan motor mereka, sangat mengharukan.

Hari-hairku di sana dimulai dengan Jam 7 pagi harus ada di tempat bimbel, balik ke rumah jam 10 pagi. Belajar lagi 2 jam, makan siang, tidur siang, belajar lagi sampai menjelang malam, makan malam, dan nonton, lalu diakhiri dengan belajar lagi sampai jam 2 subuh, begitu seterusnya sampai tubuh terasa hancur.

Seleksi Alam

Nilai TO perlahan membaik, ingat nilai 19/100 saat aku memulai bimbel tahun lalu, sekarang nilai TO-ku mencapai 85/100, di mana estimasi passing grade STEI ITB waktu itu adalah 51/100, saat itu angka 51 ini adalah angka tertinggi se-Indonesia. Tapi satu hal mencuri perhatianku, aku tergabung di kelas alumni, artinya sekumpulan orang-orang gagal di tahun sebelumnya atau bahkan 2 tahun berturut-turut. Dari sekitar 40 orang, hanya 3 orang yang rutin mendapat nilai yang cukup untuk estimasi lulus di universitas negeri, sisanya? Jika terus seperti ini ya hasilnya adalah kegagalan yang sama.

Dari keprihatinan itu, di akhir kelas aku maju ke depan kelas dan mengusulkan, bagaimana kalau kita buat sesi khusus untuk belajar bersama, aku bisa bantu untuk pimpin kelas tapi bukan berarti mengajari, kita belajar bersama. Salah satu teman celetuk, wah bagus tuh, kita bahas materi-materi try out saja. Tapi kita ramai begini, mau di mana? Kelas ini kan dipakai setelah kita keluar kelas.

Lalu muncul ide untuk tanya ke pihak bimbel SSC, bahwa kami mau pinjam kelas selama 1 jam setiap hari, dan mereka setuju. Besoknya hari pertama, antusiasme begitu tinggi, hampir semua ikut, aku maju ke depan dan membahas soal satu per satu. Beberapa hari peserta mulai berkurang, berkurang, berkurang, dan pada suatu hari hanya ada aku, temanku Taufik, dan Iswan. Lalu aku bilang, jika yang sisa hanya kita bertiga, bagaimana kalau kita di kosan saja, giliran. Kami pun setuju.

Pada akhirnya kehidupan ini memang tentang seleksi alam, siapa yang punya mimpi paling kuat, tujuan paling jelas, dan komitmen paling tebal, itu yang akan sampai. Perjuangan hidup bukan niat semata, tapi kekuatan untuk melawan rasa bosan. Singkatnya, dari 40 orang tersebut, yang lulus universitas negeri adalah saya ke ITB, 2 orang lain yang memang nilai TO-nya juga bagus, pun masuk ke ITB, lalu 2 orang yang bertahan yaitu Iswan dan Taufik, nilai mereka terus membaik, Taufik diterima di UPI, dan Iswan di Unpad.

Iswan teman saya, sampai sekarang kami berteman baik, dan terkadang dia masih menyinggung pesan saya saat perjuangan dulu, yaitu, benar kamu bilang Joy, hasil itu berbanding lurus dengan usaha kita. Untuk kalian tahu, Iswan ini adalah contoh terbaik dari perjuangan, karena di awal kenal, dia bahkan tidak paham aljabar sederhana, masih linglung mengerjakan perhitungan pecahan, dan dia terus berjuang, Unpad hasilnya.

“Tujuan” sebagai kekuatan terbesar umat manusia

Setelah ujian berakhir, aku lulus tanpa biaya masuk sama sekali, happy ending, padahal bukan ending, justru hanya untuk masuk pintu gerbang dari tujuan yang diawali obrolan receh di usia 13 tahun. Dan setelah ujian selesai besoknya aku semi lumpuh, tiap kaki berjejak, perut berasa ditusuk, aku datangi dokter dan dinyatakan hepatitis, lalu disarankan untuk memastikan lewat uji lab, yang tak pernah kulakukan. Aku takut jika harus menyampaikan ke orang tua, maka semua akan berantakan, aku akan disuruh pulang sebelum pengumuman.

Satu hal hebat adalah kenapa sehari setelah ujian? Dari sini aku menyimpulkan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan datang dari otot dan otak, tapi datang dari jiwa, motivasi, tujuan, fisikku bertahan. Dan seolah ketika tujuan tercapai, ujian selesai, semua dipersilakan runtuh dan beristirahat.

Apa yang kalian tangkap dari kisah ini?

Untukku adalah bahwa hidup itu hanya dikatakan hidup ketika kita sudah punya tujuan yang jelas, dan ketika ada tujuan yang jelas, tak satu pun kendala itu akan menghalangi, justru kendala itu memperkuat kita, membuat lebih pintar, dan bagian dari tujuan itu sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *