Di masa awal pengelolaan server, hampir semua pekerjaan dilakukan secara manual. Ketika perusahaan membutuhkan satu server baru, tim IT harus datang ke ruang data center, memasang perangkat, menginstal sistem operasi, mengatur network, membuat user, dan melakukan konfigurasi satu per satu. Semuanya dikerjakan tangan manusia.
Jika hanya satu atau dua server, cara ini masih masuk akal. Namun ketika jumlahnya puluhan atau ratusan, proses tersebut mulai melelahkan. Waktu instalasi lama, tenaga besar, dan hasilnya sering kali tidak konsisten. Server A bisa sedikit berbeda dengan server B. Ada pengaturan yang lupa dicatat, ada konfigurasi yang hanya diingat oleh engineer yang mengerjakannya. Saat terjadi gangguan atau perlu membuat server baru dengan spesifikasi sama, semuanya harus diulang dari awal.
Munculnya kebutuhan otomatisasi
Seiring berkembangnya virtualisasi dan cloud, kebutuhan bisnis ikut berubah. Infrastruktur dituntut lebih cepat, lebih fleksibel, dan mudah diperbanyak. Menunggu berhari-hari hanya untuk menyiapkan satu server sudah tidak relevan lagi.
Tim IT mulai membuat script sederhana untuk membantu pekerjaan berulang. Instalasi otomatis, konfigurasi otomatis, dan cloning server mulai diterapkan. Cara ini memang mempercepat proses, tetapi masih bersifat tambal sulam. Script sering kali berbeda antar engineer dan sulit distandarkan.
Lahirnya Infrastructure as Code
Dari sinilah konsep Infrastructure as Code mulai berkembang. Pendekatannya sederhana namun mendasar: infrastruktur diperlakukan seperti software. Semua konfigurasi ditulis sebagai kode, disimpan dalam file, dan dijalankan secara otomatis.
Bukan lagi membuat server dengan klik-klik manual, melainkan mendefinisikan spesifikasinya di dalam script atau template. CPU, memori, network, storage, hingga aturan keamanan dapat dibuat sekaligus hanya dengan satu perintah.
Dengan pendekatan ini, infrastruktur menjadi repeatable, konsisten, dan terdokumentasi. Setiap kali dijalankan, hasilnya akan sama. Jika ada kesalahan, cukup perbaiki kodenya dan deploy ulang.
Pada level enterprise, praktik ini terintegrasi dengan DevOps, version control, CI/CD pipeline, orchestration, dan automated provisioning. Lingkungan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari kini bisa tersedia dalam hitungan menit.
Dampak pada operasional modern
Bagi tim infrastruktur, perubahan ini sangat terasa. Fokus pekerjaan tidak lagi pada instalasi manual, tetapi pada desain arsitektur dan otomatisasi. Risiko human error berkurang, standar konfigurasi lebih rapi, dan proses audit menjadi lebih mudah.
Ketika perlu membangun sepuluh atau seratus server sekaligus, tidak ada lagi pekerjaan berulang. Cukup jalankan satu template yang sama, dan seluruh lingkungan terbentuk secara konsisten.
Skalabilitas menjadi jauh lebih sederhana. Infrastruktur bisa tumbuh atau menyusut sesuai kebutuhan tanpa proses panjang.
Penutup
Untuk membayangkannya secara sederhana, anggap saja seperti membangun rumah.
Cara lama adalah membangun satu per satu secara manual setiap kali ada kebutuhan baru. Cara modern adalah memiliki blueprint lengkap. Ketika dibutuhkan, cukup gunakan blueprint tersebut dan rumah akan terbangun dengan bentuk yang sama, cepat, dan minim kesalahan.
Seperti itulah Infrastructure as Code bekerja.
Bukan hanya membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi membuat infrastruktur lebih rapi, konsisten, dan siap berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.



